Sate jamur, kuliner satu ini mungkin masih asing bagi masyarakat. Namun sate jamur memang menjadi menu favorit baru di kota Banyuwangi. Warung makan yang menyediakan menu ini adalah Warung Ibu Tina yang terletak Jl. Raya Kepiting Banyuwangi. Lokasi warung milik Agustini, (49) warga Lingkunngan Stendo, kelurahan tukang kayu ini berada di kantor lama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Bagi anda yang belum pernah merasakan nikmatnya sate jamur, anda akan menyangka sate yang anda makan adalah sate ayam. Karena memang kelezatannya mirip dengan sate ayam. Meski demikian rasa khas jamur yang gurih dan sedikit kenyal tetap bisa di rasakan.
Dipadukan dengan kacang pada bumbu satenya menambah kenikmatan sate jamur. “Tentu saja ada bumbu rahasia dalam sate buatan saya,” aku Agustini yang di kenal dengan panggilan Tina, Senin (26/7/2010).
Untuk menikmati kelezatan sate jamur milik ini kita tidak perlu mengeluarkan uang yang besar. Hanya dengan Rp 10 ribu saja, kelezatan 10 tusuk sate jamur sudah bisa kita nikmati. Jika ingin memakannya dengan nasi atau lontong kita hanya perlu menambah uang Rp 2 ribu saja. Warung sate jamur Tina buka sejak pukul 10.00 WIB pagi hingga pukul 21.00 WIB.
Setiap harinya, setidaknya Tina menghabiskan 7 kg jamur tiram sebagai bahan baku. Jumlah itu menurutnya terus bertambah seiring dengan bertambahnya peminat sate jamur. Menurut Tina, setiap kg jamur tiram rata-rata bisa dibuat menjadi 60 tusuk sate jamur.
Sate jamur, selain sedap juga rendah kolesterol. Sehingga bagi mereka yang punya masalah kolesterol tidak perlu takut untuk makan sate yang satu ini. Sate jamu juga menjadi makanan alternative bagi para Vegetarian. Tidak sedikit vegetarian yang memilih sate jamur sebagai makanan pengganti sate.
“Biasanya kalau saya ingin makan sate khusus vegetarian saya harus ke Bali, sekarang tidak lagi,” ujar Wiriyanto, seorang vegetarian penikmat sate jamur.
Sumber : jurnalbesuki.com - jae/mm/jb2
Lihat juga:
Soto
Burger King
Senin, 22 November 2010
Sensasi Nikmatnya Ice cream
Menandai pembukaan outlet terbarunya yang berlokasi di Plaza Senayan lantai 3 food court area, Coldstone juga meluncurkan varian terbaru Ice cream -nya yakni Blueberry ice cream, sebuah kreasi baru yang akan memenangkan banyak penggemar baru.
Varian rasa terbaru ini menambah rangkaian rasa yang telah ada sebelumnya dan tetap pada komitmennya, Coldstone menghadirkan varian ice cream yang beragam dengan menggunakan bahan–bahan segar, produk susu dan pasta buah blueberry terbaik dan dibuat segar setiap harinya oleh tangan–tangan terampil para kru digerai Cold Stone.
"Setiap produk Cold Stone Creamery merupakan hasil karya yang unik, perpaduan berbagai rasa es krim dan mix-in yang kami miliki, dapat menghasilkan lebih dari 4 juta kreasi es krim. Kehadiran es krim Blueberry tentunya semakin memperkaya," ujar Anggy S. Gustina, General manager PT. Sari Icecream Indonesia.
Salah satu keistimewaan dari outlet ice cream Cold Stone ini adalah para kru yang memiliki cara menarik meracik ice cream Anda dengan melakukan atraksi jugling serta bernyanyi, menghadirkan manisnya ice cream favorit anda. Jangan lewatkan aksi lempar tangkap es krim yang dilakukan para kru Cold Stone yang tangkas.
Saat lelah mulai menyapa, setelah cukup lama menghabiskan waktu untuk berbelanja, saatnya Anda memanjakan rasa dalam ragam varian es krim yang begitu menggoda untuk dilewatkan.
Sumber : KapanLagi - wo/ana/bee
Lihat juga :
Sour Sally
Hanamasa
Varian rasa terbaru ini menambah rangkaian rasa yang telah ada sebelumnya dan tetap pada komitmennya, Coldstone menghadirkan varian ice cream yang beragam dengan menggunakan bahan–bahan segar, produk susu dan pasta buah blueberry terbaik dan dibuat segar setiap harinya oleh tangan–tangan terampil para kru digerai Cold Stone.
"Setiap produk Cold Stone Creamery merupakan hasil karya yang unik, perpaduan berbagai rasa es krim dan mix-in yang kami miliki, dapat menghasilkan lebih dari 4 juta kreasi es krim. Kehadiran es krim Blueberry tentunya semakin memperkaya," ujar Anggy S. Gustina, General manager PT. Sari Icecream Indonesia.
Salah satu keistimewaan dari outlet ice cream Cold Stone ini adalah para kru yang memiliki cara menarik meracik ice cream Anda dengan melakukan atraksi jugling serta bernyanyi, menghadirkan manisnya ice cream favorit anda. Jangan lewatkan aksi lempar tangkap es krim yang dilakukan para kru Cold Stone yang tangkas.
Saat lelah mulai menyapa, setelah cukup lama menghabiskan waktu untuk berbelanja, saatnya Anda memanjakan rasa dalam ragam varian es krim yang begitu menggoda untuk dilewatkan.
Sumber : KapanLagi - wo/ana/bee
Lihat juga :
Sour Sally
Hanamasa
Pecinta Wine dalam Festival
Pencinta Wine Indonesia berkumpul dalam Festival Beaujolais Nouveau bertempat di La Piazza Kelapa Gading, Kamis (18/11/2010). Acara yang diadakan oleh Summarecon Kelapa Gading dan Indonesia Sommelier Association (ISA) ini merupakan acara tahunan dan tahun ini merupakan acara untuk kedua kalinya.
Menurut Soegianto Nagaria, President of Indonesia Sommelier Association, festival ini merupakan pemanasan untuk acara "Wine and Cheese Expo" yang akan diselenggarakan pada bulan Mei 2011. Festival Beaujolais Nouveau sendiri merupakan adaptasi dari tradisi di wilayah Beaujolais, Perancis. Daerah ini menghasilkan wine Beaujolais Nouveau. Jepang dengan sukses mengadaptasi Festival Beaujolais Nouveau dan kini Indonesia pun turut serta menyelenggarakan festival unik ini.
Selain itu, dalam festival ini sekaligus memperkenalkan Indonesia Sommelier Association. Soegianto menjelaskan bahwa sommelier ahli dalam menyuguhkan wine.
"Sommelier harus menentukan wine yang cocok saat makan," kata Soegianto.
Seni penyuguhan wine ini memang tidak hanya sekadar mengetahui mana yang cocok, tetapi harus mengenal karakteristik wine sampai asal-usulnya. Sommelier juga memegang peran penting dalam pariwisata Indonesia. Soegianto menerangkan, sering kali sommelier Indonesia bertanding di luar negeri dengan membawa nama Indonesia.
"Untuk turis luar negeri saat mereka datang ke Indonesia akan merasa akrab jika mendapatkan sommelier yang mengerti wine," katanya. Karena itu asosiasi ini dibentuk agar sesama sommelier bisa saling mendukung dan berbagi pengetahuan serta pengalaman.
Dalam acara ini juga diperkenalkan wine Beaujolais Nouveau. Jenis wine ini sebenarnya sudah terkenal di luar negeri, tetapi masih jarang ditemukan di Indonesia.
"Wine ini dari anggur Gamay yang berasal dari daerah Beaujolais. Beaujolais Nouveau sendiri berarti Beaujolais yang baru. Karena wine ini berasal dari anggur yang berumur 6 minggu sudah dibotolkan dan difermentasikan dengan cepat memakai ragi khusus," jelas Soegianto.
Ragi khusus ini mengantarkan rasa cherry dan pisang dalam wine. Warnanya ungu muda dengan semburan merah muda. Rasa manis selintas dengan dominan asam dan kesan pahit setelah meminumnya. Wine ringan yang cocok untuk teman makan sambil berbincang santai dengan teman-teman.
"Wine ini sangat simple, terkenalnya karena tanpa vintage, jadi dalam dua bulan harus habis," kata Soegianto. Vintage merupakan tahun produksi dari wine, umumnya semakin tua dibuat, rasa wine semakin kaya dan harganya pun semakin mahal.
"Minum wine ini serasa berada di Perancis yang suasana cukup dingin, makan masakan nenek yang panas, minum wine dengan nikmat bersama teman-teman yang mau enjoy hari ini. Ini merupakan gambaran vivid untuk wine ini," tutur Soegianto.
Salah satu pengunjung, Benny Subroto, yang memang pencinta wine, selalu hadir dalam acara Festival Beaujolais Nouveau dan sangat menikmati acara ini.
"Suasananya meriah dan friendly. Jadi orang-orangnya tidak terlalu formil. Acara ini bagus, supaya lebih memasyarakatkan wine," tutur Benny.
Selain wine, festival ini juga dimeriahkan dengan kuliner dan budaya Perancis. Pengunjung dapat menyaksikan lagu dan tarian khas Perancis di panggung yang tersedia. Kesenian khas Perancis pun tampil, seperti Mime & Magician, Happening Arts, Street Accordion Player, dan masih banyak lainnya.
Sementara itu, lidah pengunjung dimanjakan menu prasmanan. Semua hidangan merupakan khas Perancis, seperti Duck Balotine "Confit", Fish Broth, Crepe, dan aneka menu lainnya. Ada lebih dari 20 menu yang disuguhkan untuk para penggemar budaya Perancis.
Jika Anda terlewatkan acara ini, maka nantikan Festival Beaujolais Nouveau tahun depan yang biasa diadakan pada minggu ketiga bulan November.
Sumber : Ni Luh Made Pertiwi F - travel.kompas.com
Lihat juga:
Dim Sum
Hanamasa
Menurut Soegianto Nagaria, President of Indonesia Sommelier Association, festival ini merupakan pemanasan untuk acara "Wine and Cheese Expo" yang akan diselenggarakan pada bulan Mei 2011. Festival Beaujolais Nouveau sendiri merupakan adaptasi dari tradisi di wilayah Beaujolais, Perancis. Daerah ini menghasilkan wine Beaujolais Nouveau. Jepang dengan sukses mengadaptasi Festival Beaujolais Nouveau dan kini Indonesia pun turut serta menyelenggarakan festival unik ini.
Selain itu, dalam festival ini sekaligus memperkenalkan Indonesia Sommelier Association. Soegianto menjelaskan bahwa sommelier ahli dalam menyuguhkan wine.
"Sommelier harus menentukan wine yang cocok saat makan," kata Soegianto.
Seni penyuguhan wine ini memang tidak hanya sekadar mengetahui mana yang cocok, tetapi harus mengenal karakteristik wine sampai asal-usulnya. Sommelier juga memegang peran penting dalam pariwisata Indonesia. Soegianto menerangkan, sering kali sommelier Indonesia bertanding di luar negeri dengan membawa nama Indonesia.
"Untuk turis luar negeri saat mereka datang ke Indonesia akan merasa akrab jika mendapatkan sommelier yang mengerti wine," katanya. Karena itu asosiasi ini dibentuk agar sesama sommelier bisa saling mendukung dan berbagi pengetahuan serta pengalaman.
Dalam acara ini juga diperkenalkan wine Beaujolais Nouveau. Jenis wine ini sebenarnya sudah terkenal di luar negeri, tetapi masih jarang ditemukan di Indonesia.
"Wine ini dari anggur Gamay yang berasal dari daerah Beaujolais. Beaujolais Nouveau sendiri berarti Beaujolais yang baru. Karena wine ini berasal dari anggur yang berumur 6 minggu sudah dibotolkan dan difermentasikan dengan cepat memakai ragi khusus," jelas Soegianto.
Ragi khusus ini mengantarkan rasa cherry dan pisang dalam wine. Warnanya ungu muda dengan semburan merah muda. Rasa manis selintas dengan dominan asam dan kesan pahit setelah meminumnya. Wine ringan yang cocok untuk teman makan sambil berbincang santai dengan teman-teman.
"Wine ini sangat simple, terkenalnya karena tanpa vintage, jadi dalam dua bulan harus habis," kata Soegianto. Vintage merupakan tahun produksi dari wine, umumnya semakin tua dibuat, rasa wine semakin kaya dan harganya pun semakin mahal.
"Minum wine ini serasa berada di Perancis yang suasana cukup dingin, makan masakan nenek yang panas, minum wine dengan nikmat bersama teman-teman yang mau enjoy hari ini. Ini merupakan gambaran vivid untuk wine ini," tutur Soegianto.
Salah satu pengunjung, Benny Subroto, yang memang pencinta wine, selalu hadir dalam acara Festival Beaujolais Nouveau dan sangat menikmati acara ini.
"Suasananya meriah dan friendly. Jadi orang-orangnya tidak terlalu formil. Acara ini bagus, supaya lebih memasyarakatkan wine," tutur Benny.
Selain wine, festival ini juga dimeriahkan dengan kuliner dan budaya Perancis. Pengunjung dapat menyaksikan lagu dan tarian khas Perancis di panggung yang tersedia. Kesenian khas Perancis pun tampil, seperti Mime & Magician, Happening Arts, Street Accordion Player, dan masih banyak lainnya.
Sementara itu, lidah pengunjung dimanjakan menu prasmanan. Semua hidangan merupakan khas Perancis, seperti Duck Balotine "Confit", Fish Broth, Crepe, dan aneka menu lainnya. Ada lebih dari 20 menu yang disuguhkan untuk para penggemar budaya Perancis.
Jika Anda terlewatkan acara ini, maka nantikan Festival Beaujolais Nouveau tahun depan yang biasa diadakan pada minggu ketiga bulan November.
Sumber : Ni Luh Made Pertiwi F - travel.kompas.com
Lihat juga:
Dim Sum
Hanamasa
Minggu, 21 November 2010
Sally on The Go
Bertempat di Grand Indonesia, Jumat (5/2), Donny Pramono Ie , President Director Sour Sally Fro-Yo meluncurkan produk Sally In The Closet, konsep fashion dan apparel dengan gaya khas Sally dalam acara Sour Sally Just Wanna Have Fun!
“Sour Sally sudah memperkenalkan kudapan sehat ini menjadi gaya hidup di Indonesia, saya yakin dengan gaya hidup yang sehat tentu akan menghasilkan penampilan yang ideal. Lalu, terpikir agar Sour Sally juga bisa melengkapi penampilan para penggemarnya, ” jelas Donny. Perancang berbakat, Diana Lee digandeng Sour Sally untuk merancang busana Sally In The Closet
Berbarengan dengan peluncuran ini, Sour Sally juga memperkenalkan jasa Sally On The Go, yang memungkinkan Sour Sally hadir di manapun bagi penggemarnya. Cheese cake berpadu kesegaran yogurt yaitu Sour Sally Cheerz Bite juga menambah jajaran produk baru. Tak kalah menarik, ada juga aplikasi Sour Sally bagi pengguna BlackBerry.
Sumber : Astrid - TabloidNova.com
Lihat juga :
Ice cream
Burger King
“Sour Sally sudah memperkenalkan kudapan sehat ini menjadi gaya hidup di Indonesia, saya yakin dengan gaya hidup yang sehat tentu akan menghasilkan penampilan yang ideal. Lalu, terpikir agar Sour Sally juga bisa melengkapi penampilan para penggemarnya, ” jelas Donny. Perancang berbakat, Diana Lee digandeng Sour Sally untuk merancang busana Sally In The Closet
Berbarengan dengan peluncuran ini, Sour Sally juga memperkenalkan jasa Sally On The Go, yang memungkinkan Sour Sally hadir di manapun bagi penggemarnya. Cheese cake berpadu kesegaran yogurt yaitu Sour Sally Cheerz Bite juga menambah jajaran produk baru. Tak kalah menarik, ada juga aplikasi Sour Sally bagi pengguna BlackBerry.
Sumber : Astrid - TabloidNova.com
Lihat juga :
Ice cream
Burger King
Sate Kere
Jangan berprasangka dulu dengan makanan satu ini. Kere memang salah satu kata dalam bahasa Jawa yang berarti miskin. Tapi bukan berarti Sate kere ini miskin rasa atau hanya diperuntukkan bagi orang miskin. Anda salah besar. Sate kere justru merupakan satu sate yang kaya rasa. Orang Jawa menyebutnya sugih rasa.
Jika berdomisili atau sedang mampir ke Solo, Anda bisa menemui sejumlah depot makanan yang menawarkan menu sate kere. Salah satunya di Pasar Legi, Kauman, Solo. Di depan gang II pasar tersebut, ada sebuah gerobak milik pak Atien yang sudah menjajakan sate kere sejak 10 tahun lalu.
Pak Atien, yang membuka gerobaknya sejak pukul 12.00 WIB sampai sore hari, tampak begitu menguasai mengenai seluk beluk sate kere. Maklum, ia sudah berdagang selama 10 tahun. Terlebih usahanya merupakan terusan dari mertuanya yang sudah lebih 20 tahun berdagang di tempat itu.
Sate kere yang ditawarkan Pak Atien adalah sate daging tetelan, babat, hingga kulit sapi atau kikil. Meski demikian, yang paling khas di sini adalah tempe kedelai dan tempe gembus. Ini adalah tempe yang terbuat dari ampas kedelai sisa pembuatan tahu.
Semua bahan sate kere ini dipotong terlebih dahulu dengan ukuran memanjang 5 x 10 sentimeter dan ditusuk dengan tusukan kayu. Sebelum ditusuk untuk dipanggang, bahan sate kere direbus sekitar dua jam bersama bumbu bacem agar meresap, terutama buat kulit sapi, kikil dan babat sehingga terasa empuk saat digigit. Bahan yang direbus bumbu ini kemudian diangkat dan direndam kembali dengan bumbu baru. Saat kita pesan, bahan baru dibakar selayaknya sate, dan dihidangkan dalam pincuk daun pisang.
Bumbunya sendiri mirip dengan bumbu pecel. Hanya saja, bumbu sate kere lebih terasa kencur dan cabe rawitnya, serta lebih encer. Wangi jeruk purut juga menambah selera saat kita mengunyah potongan-potongan sate.
Harga yang ditawarkan Pak Atien cukup beragam. Untuk sate daging tetelan, Atien memberi harga Rp 1.000 pertusuk. Sementara untuk kikil dan babat hanya Rp 750 dan untuk tempe gembus serta tempe kedelai dipatok Rp 500 pertusuk. Sebagai peneman sate lontong yang berfungsi sebagai asupan karbohidratnya, ia menjualnya seharga Rp 1000 berbungkus.
Kini tidak alasan buat Anda untuk tidak mencicipi sate kere yang sugih rasa ini toh.
Sumber : Dewi Suspaningrum - Wisataloka
Lihat juga :
Soto
Hanamasa
Jika berdomisili atau sedang mampir ke Solo, Anda bisa menemui sejumlah depot makanan yang menawarkan menu sate kere. Salah satunya di Pasar Legi, Kauman, Solo. Di depan gang II pasar tersebut, ada sebuah gerobak milik pak Atien yang sudah menjajakan sate kere sejak 10 tahun lalu.
Pak Atien, yang membuka gerobaknya sejak pukul 12.00 WIB sampai sore hari, tampak begitu menguasai mengenai seluk beluk sate kere. Maklum, ia sudah berdagang selama 10 tahun. Terlebih usahanya merupakan terusan dari mertuanya yang sudah lebih 20 tahun berdagang di tempat itu.
Sate kere yang ditawarkan Pak Atien adalah sate daging tetelan, babat, hingga kulit sapi atau kikil. Meski demikian, yang paling khas di sini adalah tempe kedelai dan tempe gembus. Ini adalah tempe yang terbuat dari ampas kedelai sisa pembuatan tahu.
Semua bahan sate kere ini dipotong terlebih dahulu dengan ukuran memanjang 5 x 10 sentimeter dan ditusuk dengan tusukan kayu. Sebelum ditusuk untuk dipanggang, bahan sate kere direbus sekitar dua jam bersama bumbu bacem agar meresap, terutama buat kulit sapi, kikil dan babat sehingga terasa empuk saat digigit. Bahan yang direbus bumbu ini kemudian diangkat dan direndam kembali dengan bumbu baru. Saat kita pesan, bahan baru dibakar selayaknya sate, dan dihidangkan dalam pincuk daun pisang.
Bumbunya sendiri mirip dengan bumbu pecel. Hanya saja, bumbu sate kere lebih terasa kencur dan cabe rawitnya, serta lebih encer. Wangi jeruk purut juga menambah selera saat kita mengunyah potongan-potongan sate.
Harga yang ditawarkan Pak Atien cukup beragam. Untuk sate daging tetelan, Atien memberi harga Rp 1.000 pertusuk. Sementara untuk kikil dan babat hanya Rp 750 dan untuk tempe gembus serta tempe kedelai dipatok Rp 500 pertusuk. Sebagai peneman sate lontong yang berfungsi sebagai asupan karbohidratnya, ia menjualnya seharga Rp 1000 berbungkus.
Kini tidak alasan buat Anda untuk tidak mencicipi sate kere yang sugih rasa ini toh.
Sumber : Dewi Suspaningrum - Wisataloka
Lihat juga :
Soto
Hanamasa
Selasa, 16 November 2010
Carmenere Wine from Chile
In March of this year I reviewed a few Carmenere Wine from Chile and although they were not that bad, they still were not wines I personally would order when dining out or even buy as an everyday table wine. That left me still searching for some Chilean wines to add to my growing list of favorites. Now, thanks to Banfi Vintners, I have added three very nice red wines from Emiliana Vineyards of Valle del Maipo, Chile.
*Disclaimer: I received this wine as a sample from the PR folks at Banfi Vintners.
A few weeks ago I received three red wines, an Eco-Balance Carmenere, Merlot and Cabernet Sauvignon. The first opened was the Carmenere, a blend of 85% Carmenere and 15% Cabernet Sauvignon. It was time to try again as my daughter Pam just used the last of my Banfi Chianti Reserva to make a special tomato sauce for our Sunday evening dinner. The sauce is made from the residue of tomatoes used to make paste. Shirley just canned about 12 containers of tomato paste which leaves enough for a few gallons of tomato juice and a pot full of juicy pulp for a sauce. Pam's main additional ingredient is marjoram. She also added meatballs made from ground turkey and Italian meatballs made from beef, pork and veal. I opened the Carmenere for just an afternoon sip, but after a few swallows I knew I'd keep this one on the table for dinner.
Aromas of cherry and plum with hints of chocolate and not as smokey as the earlier reviewed Carmeneres were pleasant. The Eco-Balance was smoother, well balanced and finished long with a little pepper. It was amazingly great with the sauce and the Italian meatballs. This Carmenere was a hit and now a new favorite on my list.
A few nights later with a meal of pork chops, whipped potatoes and sauerkraut I opened the Merlot, a blend of 89% Merlot and 11% Syrah. Again the aromas were very nice. Lots of berry aromas with some clove or green pepper and a hint of vanilla leading to a smooth flavor filled taste and a very long smooth finish. Excellent pairing with the pork, but not so much with the kraut, but then again I have yet to find any wine I like with kraut. I also had some left that I poured the next night after work and found it to be fantastic. Definitely the best Chilean wine I have had to date.
Finally, this week, after work, I opened the Cabernet Sauvignon, a blend of 85% Cabernet Sauvignon and 15% Syrah. This was not opened for any food, but just to enjoy as I wind down from a day at work. I did have a bowl of 'fat free' chocolate ice cream along with the wine which was a nice match.
The aromas were very typical Cab/Sauv dark fruit, plum, some pepper and clove with a touch oak. It was a good wine at a good price ($9), but not comparable to what I found in California or French Cab/Sauv's. Still it was a nice wine for sipping and I would not be against trying with a beef roast or a beef stew.
Eco-Balance is a collection of high quality, sustainably farmed wines created for relaxed everyday enjoyment.
Healthy grapes, beautiful vineyards teeming with life, thoughtful packaging and an earth-friendly ethos are the source of inspiration behind Eco-Balance from Emilian, the worlds single largest source of estate grown organic wines. All Eco-Balance wines originate in sustainably farmed vineyards in transition to full organic status. Synthetic pesticides and herbicides are shunned in favor of natural remedies that inspire life and biodiversity.
Eco-Balance wines are available in major metropolitan markets throughout the U.S. and are projected to retail for an affordable $9 a bottle. (why wine blog)
See also :
Dim Sum
Hanamasa
*Disclaimer: I received this wine as a sample from the PR folks at Banfi Vintners.
A few weeks ago I received three red wines, an Eco-Balance Carmenere, Merlot and Cabernet Sauvignon. The first opened was the Carmenere, a blend of 85% Carmenere and 15% Cabernet Sauvignon. It was time to try again as my daughter Pam just used the last of my Banfi Chianti Reserva to make a special tomato sauce for our Sunday evening dinner. The sauce is made from the residue of tomatoes used to make paste. Shirley just canned about 12 containers of tomato paste which leaves enough for a few gallons of tomato juice and a pot full of juicy pulp for a sauce. Pam's main additional ingredient is marjoram. She also added meatballs made from ground turkey and Italian meatballs made from beef, pork and veal. I opened the Carmenere for just an afternoon sip, but after a few swallows I knew I'd keep this one on the table for dinner.
Aromas of cherry and plum with hints of chocolate and not as smokey as the earlier reviewed Carmeneres were pleasant. The Eco-Balance was smoother, well balanced and finished long with a little pepper. It was amazingly great with the sauce and the Italian meatballs. This Carmenere was a hit and now a new favorite on my list.
A few nights later with a meal of pork chops, whipped potatoes and sauerkraut I opened the Merlot, a blend of 89% Merlot and 11% Syrah. Again the aromas were very nice. Lots of berry aromas with some clove or green pepper and a hint of vanilla leading to a smooth flavor filled taste and a very long smooth finish. Excellent pairing with the pork, but not so much with the kraut, but then again I have yet to find any wine I like with kraut. I also had some left that I poured the next night after work and found it to be fantastic. Definitely the best Chilean wine I have had to date.
Finally, this week, after work, I opened the Cabernet Sauvignon, a blend of 85% Cabernet Sauvignon and 15% Syrah. This was not opened for any food, but just to enjoy as I wind down from a day at work. I did have a bowl of 'fat free' chocolate ice cream along with the wine which was a nice match.
The aromas were very typical Cab/Sauv dark fruit, plum, some pepper and clove with a touch oak. It was a good wine at a good price ($9), but not comparable to what I found in California or French Cab/Sauv's. Still it was a nice wine for sipping and I would not be against trying with a beef roast or a beef stew.
Eco-Balance is a collection of high quality, sustainably farmed wines created for relaxed everyday enjoyment.
Healthy grapes, beautiful vineyards teeming with life, thoughtful packaging and an earth-friendly ethos are the source of inspiration behind Eco-Balance from Emilian, the worlds single largest source of estate grown organic wines. All Eco-Balance wines originate in sustainably farmed vineyards in transition to full organic status. Synthetic pesticides and herbicides are shunned in favor of natural remedies that inspire life and biodiversity.
Eco-Balance wines are available in major metropolitan markets throughout the U.S. and are projected to retail for an affordable $9 a bottle. (why wine blog)
See also :
Dim Sum
Hanamasa
Senin, 15 November 2010
Ice cream Ragusa yang enak
Siapa yang tak kenal dengan Ice cream? hmm… pasti semua pernah mencobanya, anak-anak sampai orang tua semua suka Ice cream, apalagi disajikan dalam kondisi cuaca yang panas siang hari, lebih-lebih kalau Ice cream gratis…
Usai meeting bersama teman-teman, saya sempatkan mampir ke sebuah tempat Ice cream bernama Ragusa, tempatnya ada di Jalan Veteran, dekat Masjid Istiqlal Jakarta Pusat. Konon katanya Ice cream disini (Ragusa) enak dan beda dengan es krim lainnya, karena katanya Ice cream tradisional tanpa pengawet, dan yang lebih seru adalah makan ditempat.
Tanpa pikir panjang kami pun memesan beberapa jenis Ice cream yang tersedia. Sambil menunggu Ice cream, pelayan memberikan segelas air mineral, dan tak berapa lama Ice cream yang kami pesan disajikan. Ice cream disajikan ke mangkuk aluminium, mumpung Ice cream masih dalam kondisi “mulus” saya pun tak lupa untuk mem-fotonya
Ice cream Ragusa ternyata memang beda dari Ice cream yang lain, punya khas tersendiri, dan memang fresh. Namun kita tak dapat berlama-lama menikmati Ice cream tersebut, karena tempat Ragusa tidak difasilitas pendingin ruangan (AC) hanya kipas angin (karena tradisional mungkin), dan ini membuat Ice cream cepat mencair, dan akan beda rasanya jika dinikmati, bukan Ice cream lagi, tapi air krim. (Imam Mahmudi - wisata.kompasiana.com)
Lihat juga :
Sate
Sushi
Usai meeting bersama teman-teman, saya sempatkan mampir ke sebuah tempat Ice cream bernama Ragusa, tempatnya ada di Jalan Veteran, dekat Masjid Istiqlal Jakarta Pusat. Konon katanya Ice cream disini (Ragusa) enak dan beda dengan es krim lainnya, karena katanya Ice cream tradisional tanpa pengawet, dan yang lebih seru adalah makan ditempat.
Tanpa pikir panjang kami pun memesan beberapa jenis Ice cream yang tersedia. Sambil menunggu Ice cream, pelayan memberikan segelas air mineral, dan tak berapa lama Ice cream yang kami pesan disajikan. Ice cream disajikan ke mangkuk aluminium, mumpung Ice cream masih dalam kondisi “mulus” saya pun tak lupa untuk mem-fotonya
Ice cream Ragusa ternyata memang beda dari Ice cream yang lain, punya khas tersendiri, dan memang fresh. Namun kita tak dapat berlama-lama menikmati Ice cream tersebut, karena tempat Ragusa tidak difasilitas pendingin ruangan (AC) hanya kipas angin (karena tradisional mungkin), dan ini membuat Ice cream cepat mencair, dan akan beda rasanya jika dinikmati, bukan Ice cream lagi, tapi air krim. (Imam Mahmudi - wisata.kompasiana.com)
Lihat juga :
Sate
Sushi
Langganan:
Postingan (Atom)